Muclichun dan Budi Melawan Radikalisme Melalui Kaos #Santri

Muclichun dan Budi Melawan Radikalisme Melalui Kaos #Santri

Muclichun dan Budi adalah dua sahabat yang dipertemukan di beberapa organisasi luar kampus saat masih kuliah. Mereka tergerak untuk membuka usaha bermula saat pulang ziarah dari makam Mbah Mutamakkin, Kajen, Pati. Kedua pemuda Kudus tersebut menjalankan usaha kaos yang mengusung slogan hastag santri, yang mereka sebut kaos spesial quote masyayikh.

“Saat itu kami berbincang banyak sekali kaos islam yang beredar dan kebanyakan dari mereka mengusung Islam garis keras, jadi kita ingin buat kaos yang menyuarakan nilai keislaman secara halus dan mengusung nilai-nilai keluhuran islam yang sederhana,” jelasnya saat di temui di home storenya Pringsewu RT 03/ RW 03, Desa Bakalankrapyak, Kaliwungu, Kudus, kemarin.

Sama-sama dari Kudus, Budi dulunya adalah santri Pondok Pesantren Raudlatul Muta’alim, Janggalan 62 Kudus sedangkan Muclichun adalah santri kalong yang sering berpindah-pindah tempat mondok.

Dengan mengusung hastag santri atau #santri mereka berdua menyajikan kaos bernuasa santri dengan kata-kata yang sederhana, sebagai contoh kaos yang sudah cetak tiga kali lebih yaitu ‘Tuhan Kami Sangat Sibuk’ adalah kalimat yang sering di ucapkan Gus Dur yang diambil dari puisi Gus Mus sebagai sindiran banyak aktifitas manusia yang membuat lupa kepada tuhan. Selain itu yang sudah produksi sampai lima kali adalah Budayakan Tabayun.

“Sampai sekarang sudah ada sekitar 18 desain kaos yang berbeda,” kata Budi menambahkan.

Budi dan Muclichun juga menceritakan bahwa modal awal dari usahanya ini sekitar Rp 7 juta. Mulai Desember 2016 lalu sampai sekarang usaha terus maju, banyak pesanan dari pesantren, sekolahan dan beberapa komunitas.

“Sudah menembus pasar Kalimantan dan Bandar Lampung,” jelas Muclichun.

Seminggu dua kali mereka mengeluarkan produk baru dan bagi yang ingin pesan dengan harga yang lebih murah bisa pesan saat pre order.

“Kalau pelanggan beli pre order bisa lebih murah Rp 10 ribu,” jelas Budi.

Harga kaos #santri mulai kisaran Rp 75 ribu dampai Rp 130 ribu. Namun, menurut Budi semua tergantung bahan, kalau bahannya Kantun Bambu yang halus harganya Rp 130 ribu itu sudah yang paling mahal.

Kaos yang di produksi Hastag Santri terbilang unik, karena mengusung pesan-pesan keislaman yang sederhana, Budi mencontohkan yang terbaru “Dimanapun, Kapanpun, Jadi Apapun, Santri Tetap Ta’dzim Kiai dan Menjaga NKRI”.

“Kami hanya ingin ada kaos yang menyuarakan bahwa Islam itu sederhana dan bukan meneror, Islam itu halus dan cinta damai,” jelasnya.

Selain pesan-pesan sederhana mengenai dunia Islam, Hastag Santri juga mengusung tema-tema bela Negara. Mengenai soal itu Muclichun, mengatakan kalau untuk kaos bela negara pihaknya membuat kaos seperti ‘Indonesia Wala tafarroqu jangan terpecah belah’ dengan Wala tafarroqu lebih besar dari huruf lainnya dan berada di tengah lingkaran.

Muclichun dan Budi melihat sekarang pesan-pesan tersebut penting dan sebagai salah satunya adalah media kaos ini.

“Kami tak memungkiri bahwa ini adalah bisnis, tapi jika bisnis di niatkan dengan yang baik, sudah ada untung dan juga bisa menyebar kebaikan,” tambah dia.

Selama ini mereka hanya berjualan online, melalui akun Instagram @hastagsantri dan facebook Hastag Santri. Muclichun dan Budi saat ini dalam satu bulan bisa memproduksi lebih dari 100 kaos pesanan.

“Kami tidak menerima pesanan satuan, tapi kalau mau pesan ya minimal pesan 12 kaos, kalau itu bisa dengan desain yang diinginkan,” jelas Budi. (Sumber: Mam)

225 total views, 3 views today

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0