Kota Kediri harus Kreatif Mengeksplorasi Potensi SDM dan Ekonomi

Kota Kediri harus Kreatif Mengeksplorasi Potensi SDM dan Ekonomi

Kota Kediri memiliki luas wilayah 63,40 km2 atau 6.340 hektar (ha). Jumlah penduduknya mencapai 312.331 jiwa, yang terdiri dari 3 kecamatan dan 46 kelurahan. Di Kota Kediri juga bakal berdiri 3 kampus negeri di tahun depan, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Kampus 3 Universitas Brawijaya (Unibraw), dan Politeknik.

Berdirinya 3 kampus itu akan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Kota Kediri menjadi lebih terampil. Dampaknya, investor yang masuk ke Kota Kediri tak perlu repot lagi mencari tenaga terampil dari luar.

Sebenarnya banyak potensi dan peluang usaha yang bisa digarap oleh calon investor di kota yang dijuluki Kota Tahu ini. Atas dasar itulah, Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri melalui Kepala Badan Penanaman Modal (BPM) Kota Kediri, Triono Ketut, mengajak investor terutama masyarakat yang lahir di Kediri untuk pulang kampung.

“Kami mengajak mereka yang pernah lahir di Kediri untuk Pulang Kampung. Sekarang Kota Kediri sudah banyak berbenah. Seluruh masyarakat kelahiran Kota Kediri yang jadi pejabat atau pengusaha di seluruh nusantara mari bersama-sama membangun kota kelahirannya,” kata Ketut dalam sambutannya sambil menyebut bahwa Kota Kediri sekarang mengusung tagline ’Harmony Kediri The Service City’.

Sambutan Ketut tersebut disampaikan dalam Business Gathering “Mulih Nang Kediri, Mbangun Kediri” yang dilaksanakan di Tegowangi Room, Hotel Grand Surya, Kota Kediri, pada Sabtu, 17 Desember 2016 tahun lalu. Business Gathering itu juga diiringi dengan talkshow yang menghadirkan Dr Ir Jamhadi, MBA (Tim Ahli KADIN Jawa Timur), Koernia T Padmodimulyo (Direktur Utama PT Semen Sukabumi Industri), dan Dr Ninik Fajar Puspita, M Eg (LPPM Institut Teknologi Sepuluh November/ITS).

Talkshow itu menyebutkan sejumlah potensi dan peluang investasi yang ada di Kota Kediri. Seperti yang dipaparkan Jamhadi. Menurut pria yang juga jadi Ketua KADIN Kota Surabaya ini, Kota Kediri memiliki produk yang cukup bagus untuk dikembangkan hingga ke pasar mancanegara.

Dari data yang dimiliki KADIN, potensi inti itu antara lain tenun ikat, tahu tauwa, industri kreatif batik tulis, dan industri agro getuk pisang. Selain itu, potensi kuliner di Kota Kediri cukup dikenal luas sampai go internasional, misalnya Bumbu Pecel.

Namun dari sisi investasi, Kota Kediri masih kalah jauh dengan kota-kota lainnya di Jawa Timur. Mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Jawa Timur sampai dengan triwulan III tahun 2016, Jamhadi menyebutkan bahwa dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) non fasilitas, Kota Kediri menempati urutan ke-14 dengan nilai 590 miliar rupiah. Jumlah unit usahanya mencapai 413 unit usaha dengan menyerap 1.963 tenaga kerja.

Di nomor urut pertama ialah Kota Surabaya dengan nilai investasi 26.65 triliun rupiah dari 8.752 unit usaha dan menyerap 135.874 tenaga kerja. Kemudian Kabupaten Sidoarjo dengan nilai investasi 8.77 triliun rupiah dengan 4.111 unit usaha dan 58.542 tenaga kerja. Urutan ketiga ialah Kabupaten Bojonegoro dengan 1.24 unit usaha dan nilai 3.00 trilun rupiah, dengan menyerap 12.379 tenaga kerja. Kabupaten Mojokerto menempati urutan ke-4 dengan nilai investasi 2.94 triliun rupiah dengan 1.117 unit usaha. Tenaga kerja yang terserap sebanyak 15.556 orang. Urutan kelima ialah Kabupaten Gresik dengan nilai investasi 2.78 triliun rupiah, dengan 729 unit usaha dan menyerap 2.940 tenaga kerja. Adapun total PMDN non fasilitas selama triwulan III tahun 2016 sebesar 58.24 triliun rupiah dari 108.804 unit usaha dan 537.444 tenaga kerja.

Sedangkan dari sisi realisasi lokasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan PMDN, dari data yang sama, Jamhadi menjelaskan bahwa Kota Kediri tidak masuk dalam 10 besar investasi. Kabupaten Gresik masih menempati urutan pertama realisasi lokasi PMA dengan nilai 5.59 triliun rupiah dari 73 perusahaan, lalu Kabupaten Pasuruan dengan nilai investasi 3.98 triliun rupiah dengan 47 unit usaha, berikutnya Kota Surabaya dengan nilai 3.21 triliun dengan 97 unit usaha, Kabupatan Sidoarjo diurutan keempat dengan nilai 2.77 triliun dari 58 unit usaha, dan Kabupaten Probolinggo dengan nilai investasi 2.49 triliun dari 59 perusahaan.

Begitupula dengan PMDN, tidak ada Kota Kediri dalam daftar 10 daerah teratas realisasi lokasi PMDN di Jawa Timur. Urutan pertama ialah Kabupaten Gresik, nilai investasinya 14,75 triliun rupiah, lalu Kota Surabaya nilai investasinya 10.05 triliun rupiah, berikutnya Kabupaten Banyuwangi dengan nilai 2.29 triliun rupiah, Kabupaten Pasuruan nilai investasinya 2.13 triliun rupiah, dan Kabupaten Sidoarjo dengan nilai 2.02 triliun rupiah.

“Minat bidang usaha PMA adalah industri logam, mesin dan elektronik, lalu perumahan, kawasan industri dan perkantoran, kemudian listrik, gas, dan air. Ada lagi perdagangan dan reparasi, dan pertambangan” jelas Jamhadi.

Melihat data demikian, ada peluang lagi yang bisa dioptimalkan di Kota Kediri, yaitu sektor pariwisata. Menurut Jamhadi, jika pariwisata itu dioptimalkan, maka akan berimbas ke pelaku usaha lainnya termasuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Sektor kreatif pun tak lepas dari peluang yang harus diambil di Kota Kediri dengan melibatkan quatrohelix, yang meliputi pemerintah, akademisi, pengusaha, dan komunitas,” ujar Jamhadi.

Dalam kesempatan yang sama, Ninik Fajar Puspita memiliki pandangan bahwa dari sisi akademis, pihaknya ingin mendorong Kota Kediri berbasis pengetauan. Selama ini yang dibangun ialah berbasis sumber daya manusia (SDM).

“Kami berpikir untuk mengembangkan Kota Kediri dalam jangka waktu 25 tahun ke depan. Dulunya Kota Kediri berbasis industry, sekarang harus bisa berbasis pengetahuan,” katanya sambil memaparkan materi presentasi ’Mewujudkan Daya Saing Kota Kediri Melalui Penguatan Sistem Inovasi Daerah’. (Sumber: KADIN)

367 total views, 3 views today

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0