BMT, Lembaga Keuangan Mikro Pendorong Pemberdayaan Ekonomi Umat

BMT, Lembaga Keuangan Mikro Pendorong Pemberdayaan Ekonomi Umat

BMT merupakan kependekan dari kata Balai Usaha Mandiri Terpadu atau Baitul Mal wat Tamwil, yaitu lembaga keuangan mikro (LKM)yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

BMT dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dan kecil, dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum ekonomi lemah dan fakir miskin.

Saat ini, BMT sudah banyak berdiri baik di kota maupun di kecamatan atau desa di berbagai daerah di Indonesia. Namun demikian, gaung keberadaannya masih kurang maksimal sampai kepada masyarakat, terbukti masih banyak anggota masyarakat yang mengandalkan rentenir atau lembaga peminjaman lain daripada BMT.

Secara konseptual, BMT memiliki dua fungsi:

  1. Baitut tamwil (rumah pengembangan harta), yang bertugas melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil dengan antera lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi.
  2. Baitul maal (rumah harta), menerima titipan dana zakat, infak dan sedekah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya.

Asas dan Landasan BMT

BMT berazaskan pancasila dan UUD 45 serta berlandaskan prinsip Syariah Islam, keimanan, keterpaduan (kaffah), kekeluargaan/koperasi, kebersamaan, kemandirian dan profesionalisme. Dalam melaksanakan usahanya BMT, berpegang teguh pada prinsip utama, yaitu: Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, Keterpaduan, Kekeluargaan, Kebersamaan, Kemandirian, Profesionalisme dan Istiqomah.

Fungsi dan Peranan BMT

Dalam rangka mencapai tujuannya, BMT berfungsi dan berperan diantaranya sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisir, mendorong dan mengembangkan potensi serta kemampuan potensi ekonomi anggota, kelompok anggota muamalat dan daerah kerjanya.
  2. Meningkatkan kualitas SDI (Sumber Daya Insani) anggota menjadi lebih profesional dan islami sehingga semakin utuh dan tangguh dalam menghadapi persaingan global.
  3. Menggalang dan memobilisir potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota.
  4. Menjadi perantara keuangan (Financial Intermediary) antara aghniya sebagai shohibul maal dengan duafa sebagai mudharib, terutama untuk dana-dana sosial seperti zakat, infaq, sedekah, wakaf dan hibah.

Baitul mal wat tamwil isinya berintikan bayt al-mal wa al-tamwil dengan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan ekonomi pengusaha kecil antara lain dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Selain itu BMT juga menerima titipan zakat, infak, dan sedekah serta menyalurkanya sesuai dengan peraturan dan amanatnya.

Keberadaan BMT dapat dipandang memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai media penyalur pendayagunaan harta ibadah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf, serta dapat pula berfungsi sebagai institusi yang bergerak dibidang investasi yang bersifat produktif sebagaimana layaknya bank.

Pada fungsi yang kedua ini dapat dipahami bahwa selain berfungsi sebagai lembaga keuangan BMT juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi dan bertugas menghimpun dana dari masyarakat (anggota BMT) yang mempercayakan dananya disimpan di BMT dan menyalurkanya dana kepada masyarakat (anggota BMT) yang diberikan pinjaman oleh BMT.(Soemita 2009:451)

Secara umum dapat disimpulkan bahwa profil BMT adalah sbb:

  1. Tujuan BMT, yaitu meningkatkan kualitas usaha ekonomi untuk mensejahterakan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
  2. Sifat BMT, yaitu memiliki usaha bisnis yang bersifat mandiri ditumbuhkembangkan dengan swadaya dan dikeloa secara profesional serta berorientasi untuk kesejahteraan anggota dan masyarkat dengan penggalangan dana ZISWA (zakat, infaq, sedekah, wakaf) dll.
  3. Visi BMT, yaitu upaya untuk mewujudkan BMT menjadi lembaga yang mampu meningkatkan kualitas ibadah anggota (ibadah dalam arti luas), sehingga mampu berperan sebagai wakil pengabdi Allah SWT, memakmurkan kehidupan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya
  4. Misi BMT, membangun dan mengembangkan tatanan perekonomian dan struktur masyarakat madani yang adil berkemakmuran-kemajuan, serta makmur-maju berkeadilan berlandaskan syariah dan ridho Allah SWT .
  5. Fungsi BMT, yaitu (1) mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisir, mendorong dan mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi anggota, (2) mempertinggi kualitas SDM anggota agar menjadi lebih profesional dan islami, (3) menggalang dan mengorganisir potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota. (Muhammad Ridwan,2004:124)

Ciri-ciri utama BMT:

  1. Berorientasi bisnis, mencari laba bersama, meningkatkan pemanfaatan ekonomi paling banyak untuk anggota dan lingkunganya.
  2. Bukan lembaga sosial tapi dapat dimanfaatkan untuk mengefektifkan zakat, infak dan sedekah bagi kesejahteraan orang banyak.
  3. Ditumbuhkan dari bawah berlandaskan peran serta masyarakat di sekitarnya.
  4. Milik bersama masyarakat kecil dan bawah dari lingkungan BMT itu sendiri, bukan milik orang seseorang atau dari luar masyarakat itu sendiri.

Ciri-ciri khusus BMT:

  1. Staf karyawan BMT bertindak aktif, dinamis berpandangan produktif tidak menunggu tapi menjemput nasabah.
  2. Kantor dibuka dalam waktu tertentu dan ditunggui oleh sejumlah staff yang terbatas,karena sebagian staf bergerak di lapangan untuk mendapatkan nasabah.
  3. BMT selalu mengadakan pengajian rutin dengan waktu yang ditentukan .
  4. Manajemen BMT diselenggarakan secara profesional dan islami.
  • a. Administrasi keuangan pembukuan dan prosedur ditata dan dilaksanakan dengan sistem akuntansi sesuai dengan standar akuntansi indonesia yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.
  • b. Aktif menjemput bola, beranjang sana, berprakarsa, proaktif, menemukan masalah dengan bijak, bijaksana dan memenangkan semua pihak.
  • c. Berfikir, bersikap, dan berperilaku ahsanu amala.(Muhammad Ridwan,2004:126)
  • d. Status dan Badan Hukum BMT

Sebagai organisasi dalam bentuk kelompok simpan pinjam (KSP) atau kelompok swadaya Masyarakat (KSM), BMT secara prinsip memiliki sistem yang tidak jauh berbeda dari sistem operasi BPR syariah. Berkenaan dengan itu, badan hukum yang dapat disandang oleh BMT adalah sebagai berikut (Muhamad, 2000: 114).

  1. Koperasi Serba Usaha atau koperasi simpan pinjam.
  2. KSM (kelompok Swadaya Masyarakat atau prakoperasi. Dalam program PHBK-BI (proyek hubungan Bank dengan KSM: kelompok swadaya masyarakat Bank Indonesia), BI memberikan ijin kepada KSM untuk membina KSM.
  3. LPSM memberikan sertifikat kepada KSM (dalam hal ini baitut tanwil) untuk beroperasi, KSM ini disebut juga Prakoperasi.
  4. MUI, ICMI, dan BMI telah menyiapkan LPSM bernama PINBUK yang kepengurusannya mengikutsertakan unsur-unsur DMI, IPHI, pejabat tinggi Negara yang terkait, BUMN dll.

Sumber

551 total views, 4 views today

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0